SEPERTI MATI

Kau terindah melebihi mentari pagi Segala gelapku mampu kau terangi Membawaku keluar dari mimpi Bersama cinta yang kumiliki Tapi mengapa engkau pergi Secepat ini Meninggalkan aku sendiri Aku sendiri Engkau pergi Rasanya begitu perih hati Engkau pergi Sepertinya mati hati ini Kau telah melenyapkan semua sedih Kau ubah gundah dalam hati ini Membawaku keluar dari mimpi Bersama cinta yang kumiliki ~ Raya Billy Cahyo ~ @RayaBilly

> @sallyflabby at Kopi Merah Cafe, Jakarta.

> @sallyflabby at Kopi Merah Cafe, Jakarta.

SARKOMA KAPOSI

Terjerat hubungan badanku Padamu yang sama denganku Dan menjauh kesadaranku Melewati batas akal sehatku Vitalku terbunuh membiru kaku Sebab dariku bercinta denganmu Kulitku terinfeksi virus tubuh Menyatu bersama jenis setubuh Nafsu telah membelenggu Butakan mata hati adamku Homo kesalahan megaku Namun kunikmati semua itu Ingin kuhentikan Homoku lenyapkan Harus kutinggalkan Virusku menyebar *dipikir baik-baik ya sebelum memutuskan untuk jadi penyuka sesama jenis* :) ~ Raya Billy Cahyo ~ @RayaBilly

UANG TIDAK BISA MEMBELI SEBUAH IDEALISME.

Ini berawal dari sebuah ungkapan seorang teman pada saya beberapa waktu lalu. Entah kami sedang membicarakan apa saat itu, tapi menurut saya ungkapan itu memang brilian, dan saya berencana untuk mengembangkannya dalam sebuah tulisan. Bagi sebagian seniman, entah itu musisi, aktor, pelukis, atau apapun, idealisme memang sangat penting. Terlebih jika mereka ingin sebuah karyanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Soal jelek atau bagus, itu selera, dan pastinya setiap orang akan memiliki pendapat yang berbeda. Saya termasuk orang yang jika menciptakan sebuah karya harus sesuai dengan apa yang saya rasakan, bebas mengalir tanpa tekanan. Karena, jika sebuah karya dibuat atas dasar tekanan, hasilnya pasti tidak akan maksimal. Maka di sini, idealisme sangat berperan penting pada hasil akhir sebuah karya yang diciptakan. Uang, setiap orang memang membutuhkannya, sehingga banyak yang rela menciptakan karya demi mendapatkan nominal. Mereka (seolah) tak peduli pada kritik dan cacian masyarakat di luar sana terhadap hasil karyanya. Kita ambil contoh dari band-band Indonesia, tak sedikit yang menjiplak karya dari band-band luar agar musiknya terdengar lebih oke atau berkualitas, padahal jika ditelaah lebih dalam lagi, itu adalah perbuatan yang menyimpang, melanggar, sekaligus memalukan. Ya, sekali lagi, itu demi uang; apapun dilakukannya. Saya, tidak munafik pasti juga membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup; tapi saya tidak mau seperti mereka yang menjiplak hasil karya orang lain. Maka itu, saya menggunakan idealisme untuk menciptakan karya yang orisinil. Bagi saya adalah saya hidup untuk musik, bukan musik untuk hidup. Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan uang dengan halal tanpa harus mengesampingkan idealisme. Hidup memang pilihan, tergantung bagaimana kita mau menjalaninya dengan cara apa. Suka atau tidak, pasti selalu ada resiko dari apa yang kita lakukan. Berani menghadapinya? Saya berikan 4 jempol! Konsistensi juga harus tetap dipegang, semacam prinsip, kita tak boleh goyah untuk menggenggamnya. Demi uang, banyak yang rela mengubah prinsip dan menjadi tidak konsisten. Mereka jadi tak memikirkan kualitas yang seharusnya dipentingkan, sebab itu juga sekaligus mengajak para penikmat karya menjadi (setidaknya) sedikit lebih pintar. Jika saja UANG TIDAK BISA MEMBELI SEBUAH IDEALISME, betapa lebih hebatnya hasil karya anak bangsa karena tidak terpaku oleh pasar. Ya, seperti kata Efek Rumah Kaca, “Pasar Bisa Diciptakan”. Saya setuju dan percaya akan hal itu, semoga para pelaku seni dan pencipta karya juga demikian. Sekian. Raya Billy Cahyo Jakarta - Minggu - 31 Juli 2011 17.40 WIB @RayaBilly

ANEMIA

Tensi darah yang menurun Seperti sulit ‘tuk melangkah Semua terlihat merabun Ini harus cepat dicegah Aku tak kuasa Aku tak berdaya Anemia Tak terbayang itu terjadi Anemia Samarkan semua yang terlihat Isi kepala seperti berputar Kitari seluruh lingkarannya Langkah melemah lelah Ini harus cepat dicegah Anemia Kacaukan penglihatan mata Anemia Sendatkan semua yang tertatap Raya Billy Cahyo @RayaBilly

THE CRANBERRIES, I love you! :)

Java Rocking Land, seperti biasa, dipenuhi oleh para penonton yang antusias ingin menyaksikan band-band kesayangan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bertempat di Pantai Karnaval, Ancol, acara yang digagas oleh Java Fest Pro ini diselenggarakan pada tanggal 22, 23, dan 24 Juli. Saya datang di hari ke-2, dimana Amazing in Bed, G-Pluck, Cokelat, BIP, Pure Saturday, God Bless, Bloody Red Shoes, Neon Trees, dan tentu saja The Cranberries juga tampil di sana pada hari itu. Tiba sekitar pukul 19.00, saya memang ingin menyaksikan The Cranberries yang dijadwalkan tampil pukul 23.00. Sambil menunggu mereka perform, saya nonton band-band indie yang perform di stage lain. Sampai akhirnya pukul 22.00, saya memutuskan untuk ke GG Stage, dimana The Cranberries akan tampil di sana. Walau ga sampai depan panggung (saya di kiri panggung), tapi cukup untuk saya melihat jelas band yang saya tunggu. Menjelang pukul 23.00, Che Cupumanik, Sarah Cokelat, dan Power Metal muncul di GG stage dan mengajak para penonton untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama. Seluruh penonton kemudian serempak menyanyikan lagu ciptaan WR. Soepratman tersebut. “Hiduplah Indonesia Raya”. Tak lama setelah itu, muncul Fergal Lawler menuju set drumnya, disusul oleh Mike Hogan, Noel Hogan, dan tentu saja Dolores O’Riordan. Penonton pun bersorak gembira. The Cranberries! Airmata menetes, terharu dan senang bisa menyaksikan langsung band yang saya idolakan sejak SMP. Dolores terlihat cantik dengan kostum berwarna hitam yang dipadukan dengan warna silver dan bra warna pink. Analyze dipilih menjadi lagu pembuka dan berhasil mengajak seluruh penonton jejingkrakan dan sing a long. Selesai lagu pertama, Animal Instinct langsung dimainkan sebagai lagu kedua, disusul oleh How dan Dreaming My Dreams. Lagi-lagi airmata saya menetes saat Linger dibawakan dan Dolores berrnyanyi tepat berada di depan muka saya, seperti mimpi yang jadi kenyataan. Terharu bahagia. Selesai Linger, The Cranberries melanjutkan penampilan fantastisnya dengan membawakan lagu Ode To My Family dan Wanted. Lalu setelah itu membawakan 2 lagu terbarunya yang juga terdapat di album barunya “Roses” seperti Tomorrow dan Schizophrenic Playboy. Kemudian Just My Imagination kembali membuat penonton sing a long, disusul dengan I Can’t Be With You, Waltzing Back, Free To Decide, Salvation, Ridiculous Thoughts, dan Zombie. Zombie selesai, The Cranberries meninggalkan panggung. Sudah bisa ditebak, seperti konser-konser band pada umumnya, mereka break sejenak untuk nanti kembali memberikan aksi yang klimaks. Dan benar saja, sekitar 15 menit kemudian, diiringi teriakan “we want more!” dari para penonton, The Cranberries muncul kembali ke stage. Ada sedikit perbedaan dari Dolores. Ya, dia mengganti kostumnya. Dia terlihat sangat cantik mengenakan gaun hitam dengan gitar putihnya. Tanpa basa-basi, The Cranberries langsung memainkan lagu Promises. Untuk ketiga kalinya, saya kembali mengeluarkan airmata saat Dolores menatap ke arah saya sambil bernyanyi (antara kepedean atau beneran). Setelah Promises, sebagai penutup, intro Dreams dimainkan Noel Hogan. Tentu saja lagu itu membuat banyak penonton bersorak, termasuk saya yang tentu saja ikut bernyanyi bersama. Dan lagi-lagi, airmata keluar. Terharu, bahagia, semua bercampur jadi satu. Sampai pada akhirnya, The Cranberries menyelesaikan lagu Dreams dengan klimaks. Bagi saya, meski Java Rocking Land 2011 ini memang banyak menampilkan band bagus, tapi The Cranberries adalah band yang paling memukau. Total 18 lagu mereka bawakan dengan sempurna. Dolores, Noel, Mike, dan Fergal Lawler tampil prima dan menunjukkan bahwa The Cranberries memang band yang wajib ditonton. Sekian. - Raya Billy Cahyo - Sabtu, 23 Juli 2011 @RayaBilly

Aku ANJING!

Aku anjing! Menggonggong tanpa kupikirkan orang lain. Aku memang memiliki hati, tapi perasaan, tentu saja aku tak punya. Ya, karena aku anjing. Aku anjing! Menggigit dan menerkam siapa saja yang aku tak suka. Gigiku tajam, bahkan untuk makan sekalipun, aku tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya. Ya, karena aku anjing. Aku tak pernah menyadari apa yang kulakukan, tak kupedulikan juga yang lain berkata apa. Itu wajar saja, karena aku tak pernah diajarkan sopan santun dan bersikap baik. Bagaimana bisa sopan? Sebab orang tuaku pun anjing. Mereka hanya mengajarkanku untuk menerkam, menggigit, dan memakan apa atau siapa yang ku mau. Ya, karena kami keluarga anjing. Aku hidup dari keluarga yang keras, sebutlah sifat kebinatanganku memang tak diragukan. Aku tahu banyak yang menilai seperti itu, dan aku tenang saja. Tak jarang kami saling bertengkar dalam satu rumah. Kami tak pernah menggunakan otak untuk menyelesaikan pertengkaran, yang kami gunakan hanya sifat kebinatangan semata. Siapa yang lemah, dia kalah. Sudah bisa ditebak, aku yang selalu kalah dari kedua orang tuaku. Ya, karena aku hanya anak anjing. Ayahku seringkali menghantam aku dengan kakinya yang berkuku tajam, gonggongannya juga menakutkan. Ibuku juga begitu. Jika mereka sudah menggonggong, aku seperti mendengar suara yang berkata “hey Anjing, anak macam apa kamu? Dikasih tau susah! Dasar anjing!” Ya, karena aku memang termasuk anjing nakal. Nakal agar tidak dibilang terbelakang, nakal agar dibilang anjing gaul, dan nakal agar terlihat binal. Aku pandai menjilat. Aku jilat semua teman agar mereka mau berteman denganku. Senang rasanya jika banyak yang suka dengan jilatanku, meski aku tahu mereka tak sadar. Mudah sekali membuat mereka jatuh hati, sejak dulu memang itu kepintaranku. Ya, karena aku anjing. Sejak aku kecil sampai sekarang, sudah banyak yang kujilat. Lalu mereka jadi begitu dekat denganku, bahkan kami sering main bersama. Anjing sepertiku memang termasuk anjing yang beruntung. Tak ada yang menyadari bahwa jilatanku hanya tipuan, seketika mereka terperdaya dan aku bisa leluasa masuk ke dalam dunia mereka dan mengetahui segala rahasianya. Mereka bodoh, dan aku anjing yang pintar! Sampai kapanpun, kamu dan mereka tidak akan bisa mengetahui apa maksud dari semua yang kulakukan. Kalian tidak lebih pintar dariku, karena kalian mudah tertipu dan terjebak dalam setiap gonggonganku. Aku pintar mengelabui teman-temanku sendiri, terlebih teman baruku yang belum mengerti bagaimana aku. Aku akan bertahan terus seperti ini dan akan tetap menjadi anjing yang ‘pintar’. Ya, karena selamanya, aku ANJING! ~ Raya Billy Cahyo ~ June 5th, 2011 23.42.

KENIKMATAN TANGGAL MUDA

Aku dibesarkan dari keluarga yang berada, apa yang ku mau selalu terpenuhi. Kehidupan masa kecilku sangatlah mewah. Aku diberikan fasilitas-fasilitas yang memadai seperti kamar ber-AC, mobil, TV berlayar datar, handphone terbaru, laptop, dan tentu saja uang jajanku melebihi uang jajan teman-temanku. Keadaan menyenangkan ini berawal sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar sampai aku lulus sekolah tingkat akhir. Setelahnya aku tak lagi merasakan kemewahan yang lama kukecap, tepatnya setelah kepergian Ayahku untuk selamanya. Aku merasa hancur, kondisi ekonomi keluargaku menurun drastis, bahkan bisa dikatakan kami jatuh ke dalam lubang kemiskinan meski makan sehari-hari masih tercukupi. Ah, apa enaknya makan tercukupi tapi aku tak bisa merasakan fasilitas-fasilitas seperti dulu lagi? Aku tak bisa menerima semua ini. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan teman lamaku semasa sekolah, namanya Roy. Ia mengajakku ke rumahnya untuk sekadar mampir. Wah, rumahnya mewah sekali, pikirku. Kehidupannya mengingatkan saat Ayahku masih ada, ia bisa dikatakan kaya raya. Dari sinilah muncul pikiran bahwa ia harus diakrabi agar teman-temanku yang lain menganggapku tetap berada. Aku jadi sering main ke rumahnya setiap hari. Orang tuanya sangat ramah padaku, terlebih Ibunya. Menurutku, Roy beruntung memiliki orang tua seperti itu. Sejak pertemuan itu, tak pernah sekalipun aku melihat Roy bersedih, senyum dan tawanya selalu keluar dari wajahnya. Oh, aku iri sekali dengannya. Tanpa sepengetahuan Roy, aku coba menjilat Ibunya. Aku mendekati seolah seperti anaknya sendiri. Jahat memang, ah tapi semua demi kebutuhan hidupku. Suatu hari saat Ibunya Roy sedang menyiram bunga di pekarangan rumah, dengan inisiatif busukku, aku bilang “Tante, maukah aku bantu? Tante istirahat saja, biar aku yang mengerjakan semuanya. Tante sudah begitu baik padaku.” Beliau bersedia kubantu, dan hatiku berkata “Langkah pertamaku berhasil.” Aku beranikan diri untuk berkomunikasi dengan Beliau, aku menceritakan segala kehidupan masa laluku sampai sekarang. Tujuannya adalah agar ia iba dan kasihan padaku. Aku tak peduli dikasihani, yang penting misiku berhasil. Beliau bertanya padaku, “Kamu kuliah?” Aku bilang “iya Tante, aku kuliah di salah satu kampus manajemen di Jakarta. Tapi aku selalu terbentur biaya, belum lagi uang yang harus aku keluarkan untuk tugas kuliah.” Berhasil! Beliau iba padaku, bahkan aku bisa mendapatkan nomor teleponnya tanpa sepengetahuan Roy dan Ayahnya. Nampak aku bisa menguras uangnya hanya dengan memasang muka memelas dan rekayasa kata yang sebenarnya tak nyata. Pada awal bulan, aku menelepon Beliau untuk meminta uang, tentu saja tidak langsung meminta. Aku memelas dahulu sampai Beliau berinisiatif memberikannya. Aku bilang “Tante, aku harus beli peralatan untuk tugas kuliah seharga Rp 500.000,- tapi Ibuku sedang tak punya uang. Bagaimana ya?” Lalu beliau berkata “kamu kasihan sekali ya, keadaanmu susah, padahal kebutuhanmu banyak. Nanti Tante bantu ya.” Begitu seterusnya, padahal tidak semua yang kubilang itu benar. Bahkan tidak jarang uang yang kudapat darinya, aku belikan narkoba dan bersenang-senang dengan teman-temanku yang lain. Aku bisa mendapatkan berapapun yang kumau darinya hanya dengan mengiba dan berkata dengan nada memelas. Setiap tanggal muda, aku selalu mendapatkan uang dari seorang Ibu yang bukan Ibuku. Aku berhasil menipu. Aku tak peduli dengan balasan yang nanti kudapatkan, karena aku sangat menikmati ini. Apalagi aku sudah miskin sekarang, jadi wajar jika aku ingin menikmati kekayaan selagi ada kesempatan. Aku simpulkan bahwa hanya dengan mengiba saja, kebutuhanku terpenuhi, meski sementara. Tak kupikirkan hidupku setelahnya bagaimana. Raya Billy Cahyo Thu, 2/6/11 17.33 

DAN TANPAMU

Sebab mengenalmu begitu teduh
Maka kan kujaga kamu utuh
Tiada pernah ingin ku menjauh
Selalu denganmu itu yang ku mau

Bahkan kubiarkan mentari terbenam
Pun bulan tak apa jika tak bersinar
Cukup kamu yang membawa terang
Terus benderang tanpa temaram

Tanpamu
Langit mengubah warnanya
Bumi berputar lawan arah
Tetaplah disini belahan jiwa

Dan tanpamu
Airmata membasahi seluruh raga
Mengubahnya menjadi basah
Takkan bisa mengering seketika

~ Raya Billy Cahyo ~

AKU BAHAGIA JIKA BANYAK ORANG MEMBICARAKANKU.

Semua berawal dari munculnya aku ke permukaan dunia. Mulai mengenal banyak manusia yang tentunya punya nama, seperti Joni, Deni, Mia, Santi, dan yang lainnya. Aku beradaptasi dengan mereka yang sebelumnya tak kukenal. Banyak karakter yang bisa kupelajari dari masing-masing kepala. Joni misalnya, ia seorang pria penyuka sesama jenis dan berkepribadian wanita, tapi menurutku ia adalah seorang pria yang menyenangkan. Dia sangat menyukai film, dan sekarang sedang, katakanlah terkena movie syndrome. Selain berkuliah, sehari-hari hidupnya dihabiskan oleh naskah, skenario, syuting, editing, atau apapun yang berhubungan dengan itu. Ia rela mengorbankan kegiatan lain bersama teman-temannya demi kesibukan filmnya itu. Maklum, namanya juga syndrome! Sudahlah. Joni adalah contoh betapa aku sangat mempelajari karakter setiap orang, entah yang kukenal atau tidak. Aku percaya bahwa orang lain pasti juga akan mempelajari bagaimana aku, sifatku, sikapku, hingga penampilanku. Pasti tak sedikit orang yang menilaiku (mungkin) arogan, sombong, atau diktator. Tapi tak sedikit juga orang yang menilaiku baik, senang menolong, jarang mengeluh, dan sebagainya. Tapi itu hanya anggapan dan penilaian mereka saja terhadapku, dan selama apa yang menurutku benar, pasti aku lakukan. Bahkan Joni dan teman-teman yang lain juga akan melakukan hal yang sama. Buruknya, masih banyak orang yang membicarakan keburukan orang lain di belakang. Seperti “eh, si A sok artis ya, coba deh perhatiin gayanya”, atau bermain kata lewat sindiran. Menurutku itu menyedihkan! Seharusnya orang yang membicarakan keburukan di belakang atau menyindir orang lain itu bisa langsung menujukan penilaiannya kepada yang bersangkutan. Karena faktanya, tidak semua orang akan senang jika dirinya dibicarakan orang lain di belakang. Itu bisa sangat menyakitkan untuknya, bahkan melebihi sakitnya ditinju berkali-kali. Tapi di antara sedikit orang yang senang dibicarakan di belakang, mungkin aku adalah salah satunya. Bahkan dibenci orang sekalipun, aku masih bisa tersenyum dan terus berpikir positif pada mereka. Tak ada dendam sama sekali, dan tak ada keinginan untuk melakukan hal seperti itu. Lebih baik kalau aku tak suka, aku bicara langsung ke orangnya. Frontal itu baik, karena mengarah pada kejujuran. Dan tak ada yang salah dengan kejujuran, selama itu dibicarakan di depan yang bersangkutan. Aku termasuk orang yang bisa dikatakan frontal, berbicara tentang apa yang aku ingin bicarakan. Aku pikir mereka baik hati karena sudah menyisihkan waktunya untuk membicarakanku dan (mungkin) menjelekan aku di belakang. Perhatian sekali ya. Semakin aku dibicarakan, itu berarti semakin membuatku mengerti tentang kedewasaan. Setidaknya mengajarkan aku bahwa aku tidak boleh seperti mereka. Itu sebabnya AKU BAHAGIA JIKA BANYAK ORANG MEMBICARAKANKU. ~ Raya Billy Cahyo ~